Sale!

Mulat Sarira Otokritik Manusia

Rp 110.000

Penulis                  : Slamet Hendro Kusumo
Tebal                     : xvi + 502 halaman
Ukuran                 : 15 x 23 cm
Kertas Isi              : Bookpaper 57 cm (BW)
Sampul                 : Soft doff
ISBN                      : (dalam proses pengajuan)
Versi Ebook        : –
Kategori               : Sosial-Humaniora

wws Cs Bildung Beli via WhatsApp
Compare

Description

Membaca kumpulan esai ini bagai berselancar dalam dunia tanpa batas. Tanpa batas kapling teoritis dan tanpa aliran pemikiran. Strukturalis dan posstrukturalis bisa dipertemukan dalam satu gagasan. Modernisme dan posmodernisme bisa bersanding damai. Batas-batas metodologis juga runtuh. Masa bodoh dengan positivisme dan pospositivisme. Interpretatif dan kritis. Toh, pada akhirnya, paradigma itu bisa berdamai dan didamaikan. Karena banyak realitas sosiologis yang tidak lagi bisa dijelaskan hanya dengan satu paradigma. Ide Cak Met (panggilan lain) melintasi batas waktu, masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Melintasi ruang, lokal, regional, nasional, dan internasional. Melintasi sifat-sifat perubahan yang terencana, tidak dikehendaki, dan tidak dapat diprediksi. Perubahan kadang berlangsung lamban dan sering kali begitu cepat. Hingga kita tidak siap, tergagap-gagap, dan kadang bikin frustasi. Apa pun yang terjadi, sebagaimana judul buku ini, kita harus tetap waspada (mulat sariro).
Omah Budaya Slamet (OBS), bukan hanya ruang privat bagi Slamet dan keluarganya. Tapi, juga menjadi ruang publik, merujuk Jurgen Habermas. Sebuah ruang yang mempertemukan ratusan bahkan ribuan ide yang berbeda. OBS telah menjadi ruang perjumpaan untuk bertukar pikiran, ide, isu, wacana, dan untuk mengekspresikan berbagai perasaan. OBS menjadi tempat ‘nongkrong’ dari berbagai kalangan, lapisan, profesi, agama, dan jabatan. Dan, tanpa disadari, sebenarnya OBS mewujud menjadi sekolah toleransi. Sebuah sekolah yang mengajarkan menghargai perbedaan dan menciptakan harmoni dalam hidup. Siapa pun yang hadir di OBS, tak peduli dia menyembah Allah atau patung, yang penting dia bisa memanusiakan manusia, maka dia hadir sebagai ‘menungso’ yang mungkin saja sedang belajar untuk menyatu dengan sang penciptanya (manunggaling Gusti lan Kawulo). Bahkan terkadang OBS menjadi ‘tong sampah’ bagi puluhan, ratusan, dan mungkin ribuan masalah yang sedang dialami oleh orang-orang yang menginjakkan kakinya di OBS.

Additional information

Weight 0,4 kg
X